Selasa, 16 Oktober 2012

KOMPAS PP KEUSKUPAN JAYAPURA


Komisi Pastoral Pemberdayaan Perempuan Keuskupan Jayapura baru dibentuk pada SINODE tahun 2006. Pelantikkannya berupa penyerahan SK pada bulan November 2010 oleh Bapa Uskup Keuskupan Jayapura, MGR. Leo Laba Ladjar, OFM. Komisi ini diketuai oleh ibu Yosepitha Aron. Ibu Yosephita berasal dari Kabupaten Digoel, merauke. Anggota dari komisi ini berjumlah 9 orang, termasuk seorang pastoryang bernama Pastor Jhon Jonga, Pr. Walaupun sudah dibentuk dan dilantik namun komisi ini belum mempunyai visi, misi dan juga program kerja. Manusia-manusia ini adalah manusia yang care terhadap gender.
Rumah Bina Waena dekat STPK itulah nama tepat di mana para peserta berkumpul pada hari jumat tgl 13- sabtu tgl 14 Mei 2011. Tepatnya jam 16.00 WIT menurut undangan yang beredar, kami sudah harus memulai kegiatan namun kebanyakkan peserta yang belum berdatangan sehingga kami baru memulai kegiatan pada jam 18.00 WIT. Peserta adalah perwakilan dari masing-masing Paroki yang yang di Keuskupan Jayapura diantaranya; Paroki “Sang Penebus” Sentani pesertanya seorang pemudi, paroki “ST. Fransiskus Asisi” APO pesertanya seorang bapak, paroki “” Skamto pesertanya dua orang ibu, paroki “Wilibrodus” Arso Kota seorang pemudi, paroki Katerdal “Kristus Raja” pesertanya seorang ibu yang juga adalahketua WK dan anggota dari KOMPAS PP dan dua peserta serta seorang pastor adalah adalah ketua dan anggota KOMPAS PP ini atau dengan  kata lain mereka adalah panitia penyelenggaraan kegiatan ini. Sedangkan pemateri kegiatan ini adalah seorang perempuan namanya Nancy Sunarno dan seorang laki-laki namanya Cyprianus. Mba Nancy bekerja sebagai ........... sedang Cypri bekerja sebagai seorang peneliti.(SIAPA PEMATERINYA????)
Pembahasan yang paling banyak diangkat dan dibicarakan oleh pemateri dan peserta ialah isu gender. Isu ini rupanya sangat menarik bagi peserta baik perempuan dan laki-laki. Banyak pertanyaan yang dingkat untuk didiskusikan. Beberapa diantaranya: apa pengertian gender menurut pemahaman masing-masing peserta? Apa bedanya gender dan sex menurut peserta dan pemateri? Bagaimana pemahaman gender dalam budaya dulu dan pemahaman gender diiringi oleh perkembangan zaman modern ini? Konteks budaya papua mendapat priorotas utama dan terbesar. Isu gender ini adalah isu yang khusus. Isu yang umum ialah hak asasi perempuan adalah hak asasi manusia. Kaum perempuan dan laki-laki memiliki hak atas kebebasan dasar dan hak asasi itu sendiri tanpa memandang perbedaan seperti ras, jenis kelammin, kekhususan budaya, ajaran agama maupun tingkat pembangunan manusia.
“Pada titik inilah yang perlu diketahui oleh kita semua, terutama kaum perempuan bahwa pelanggaran hak asasi perempuan terus terjadi di segala bidang kehidupan, baik dalam rumah tangga maupun di masyarakat dan di semua tingkatan sosial baik yang dilakukan oleh individu, masyarakat umum maupun negara. Dan satu sebab yang diketahui adalah karena kurangnya pengetahuan dalam menggunakan instrumen-instrumen hak asasi manusia, khususnya yang berkaitan dengan dokumen-dokumen internasional tentang hak asasi manusia. Dan sejak tahun 1995 pada konferensi dunia PBB tentang perempuan di Nairobi, hak asasi manusia menjadi suatu masalah penting bagi kaum perempuan dan terus kemudian tahun 1995 pada konferensi sedunia di Beijing hak asasi manusia telah diangkat oleh beribu-ribu perempuan menjadi kerangka kerja untuk seluruh rencana aksi pemerintah.”  
Kegiatan ini bertujuan untuk merumuskan visi dan misi dari kompas PP keuskupan jayapura. Visi dan misi baru dapat dirumuskan oleh semua peserta dan pemateri setelah berdiskusi selama sehari full. Perumusan itu dilakukan setelah pemateri membantu kami untuk melihat, mengklarifikasi dan menemukan masalah-masalah secara mendetail (masalah yang nyata dan ada di depan mata kita), jaringan-jaringan/komponen-komponen yang dapat menjadi partner dan solusi-solusi apa yang akan dicapai oleh komisi ini.
Seusai melakukan semuanya itu, kami pun merumuskan visi dan misi kompas PP. Adapun visi dan misi kompas PP adalah sebagai berikut:
VISI dan MISI
Ternyata sumbangan pikiran dari setiap peserta yang mewakili parokinya sangat brilian meskipun hanya dalan sehari full kami dapat merumuskan visi dan misi komisi ini. Hal menarik yang perlu dipertanyakan ialah mengapa ketua komisi PP mendesak untuk meerumuskan visi dan misi KOMPAS PP sekarang juga? Mengapa bukan ketua adan anggota komisi ini yang merumuskan visi dan misi berdasarkan point-point pemikiran kami para peserta? Ada apa dibalik kegiatan yang mendadak ini? Ketiga pertanyaan mungkinkah tidak perlu dijawab? Hal menarik lainnya ialah bahwa ada hasil yang diperoleh dari diskusi bersama ini yaitu visi dan misi kompas PP. Sedangkaan programnya akan dususun oleh ketua dan anggota komisi ini, baik program kerja jangka panjang maupun jangka pendek. (BAGAIMANA SUASANANYA????)  SAYA PUNYA REFLEKSI TERHADAP GENDER????

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar